Breaking News
Loading...

Puncak Makrifat

Jumat, Desember 07, 2012
makrifat


Tasawuf adalah khazanah ilmu islam yang bagai samudera tanpa tepi. ia ajaran sekaligus melangit. Membumi karena memberi keleluasan bagi kearifan lokal. Melangit karena memberi keluasan bagi pejalan uuntuk mencapai puncak spiritual masing-masing. Dan, sebagaimana jumlah gunungnya yang banyak, puncak makrifat di jawa pun tidak cuma satu, melainkan jamak dan beragam.

Dalam hubungannya dengan makrifat, mripat atau mata bukanlah alat penglihatan, melainkan medium bagi peristiwa cahaya. Terang dan gelap memang berbeda, namun keadaan itu akan sama saja jika tidak ada mata yang dicahayai dan sinar yang mencahayai.

mata adlah yang dicahayai, sinar adalah yang mencahayai. Dalam tata surya, matahari bintang induk dan komponen utama yang memancarkan cahaya terbesar bagi kehidupan. Matahari dapat dibaca selayaknya zat, sifat, asma, dan af'al dalam kajian tasawuf.

Zatnya adalah matahri itu sendiri. Sifatnya adalah cahaya atau benderang matahari. Af'alnya panas atau sentuhan sinar. matahari tetap ditempatnya, namun cahaya, sinar, dan panas matahari sampai ke bumi yang berjarak 150juta kilometer, bahkan menembus kulit manusia.
Untuk memahami makrifat, kita tidak boleh kehilkangan momen-momen manusiawi. Cahaya, sinar, dan panas matahari memberikan sensasi rasa yang sama bagi setiap manusia. Di bawah satu matahari yang sama, manusia sama saja. Sama-sama mengalami kasyaf sejak menerima cahaya. Sama-sama mengalami tajalli sejak menerima sinar. Sama-sama mengalami makrifat sejak menerima panas. Tanpa panas matahari, sama-sama akan layu dan mati. Tanpa sinar matahari, sama-sama akan akan hilang pandang, bahkan buta. Tanpa cahaya matahari, sama-sama akan berada dalam gelap.

Jika makrifat dikaitkan dengan mripat atau mata maka puncak makrifat sesungguhnya adalah peristiwa melihat. Segitiga melihat diri sendiri-melihat liyan-dilihat liyan, mengerucut pada salah satu puncak makrifat jawa, yaitu sawang-sinawang. Sebagaimana kajian tentang cahaya, yang mencahayai, dan yang dicahayai:maka makrifat adalah penglihatan, yang melihat dan yang dilihat liyan, maka mata menjelma penglihatan, penglihatan melihat diri sendiri, dan diri sendiri dilihat oleh penglihatannya sendiri.

Kearifan makrifat jjawa mengajarkan ,"sawangen githokmu dhewe (lihatlah tengkutmu sendiri)." Ini ajaran tentang bagaimana hidup dengan melihat prilaku diri sendiri demi mencapai kemuliaan tindakan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda,"Innama buits-tu utammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Akhlak mulia mewujud tindakan luhur. Rasulullah SAW sendiri sendiri adalah sosok pribadi yang lugur."

Rasulullah SAW adalah uswatun hasanah, suri teladan. Dalam QS Al Anbiyaa: 107, Allah berfirman,"Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil-aalamiina. Tiadalah kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam raya."

Semoga bermanfaat dan terima kasih

Sumber:solopos.com

1 comments:

  1. hehehe..bermacam ragam...berbagai-bagai sampai tdk tahu hujung pangkal...

    BalasHapus

 
Toggle Footer